Berita Terbaru :
Home » » Presiden Republik Indonesia Belum Pantas Menerima World statesman award (Negarawan Dunia)

Presiden Republik Indonesia Belum Pantas Menerima World statesman award (Negarawan Dunia)

Written By Odiyai Wuu on Rabu, 10 Desember 2014 | 00.13

Rencana pemberian penghargaan World Statesman Award (Negarawan Dunia) kepada Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), oleh lembaga Appeal of Conscience Foundation (ACF) yang bermarkas di New York, Amerika Serikat menulai pro dan kontra di Indonesia. Sejumlah pihak terang-terangan mengutuk dan menolak penghargaan tersebut, karena dinilai SBY selaku Presiden Republik Indonesia belum menciptakan kehidupan yang bertoleransi di Indonesia. Tetapi sejumlah petinggi negara justru membela beliau dan menyatakan beliau sangat layak menerima penghargaan itu. Berkaitan hal ini, saya ingin menyampaikan beberapa pendapat saya sebagai berikut:
  1. Walaupun dasar negara Indonesia dan konstitusi negara Indonesia mengakui dan  menjamin adanya pluralisme di Indonesia, tetapi dalam prakteknya kelompok yang mayoritas cenderung menindas kelompok yang minoritas. Sebagai contoh, intimidasi terhadap kelompok Ahmadiyah dan pelarangan pembangunan gedung gereja di Bogor dan Bekasi. Padahal hal itu tidak boleh terjadi jika semua pemimpin dan rakyat Indonesia berkomitmen menerima dan mengakui fakta pluralisme tersebut.
  2. Secara khusus di Papua, beberapa tahun terakhir ini kasus kekerasan atau pelanggaran hak asasi manusia meningkat tajam. Kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum dibungkam secara represif, sejumlah orang ditahan secara sewenang-wenang, sejumlah orang dibunuh secara keji, sejumlah oknum TNI dan POLRI membeking berbagai kegiatan maksiat dan pencurian kekayaan alam, tanah-tanah adat dicaplok seenaknya saja, wilayah Papua dijadikan tanah koloni oleh para imigran yang masuk seenaknya saja ke Papua, diskriminasi yang sistematis dalam sejumlah sektor kehidupan, dan masih banyak kejahatan kemanusiaan lainnya.
  3. Dengan melihat fakta adanya kehidupan yang tidak toleran di seluruh wilayah Indonesia dan semakin meningkatkan pelanggaran hak asasi manusia di Papua, yang seharusnya menjadi tanggungjawab SBY sebagai Presiden untuk mengatasinya, maka saya berpendapat SBY belum dapat memenuhi syarat untuk menerima penghargaan World Statesman Award. Apa artinya penghargaan tersebut, sementara dalam kapasitasnya sebagai kepala negara beliau belum mampu menciptakan kehidupan yang penuh toleransi di Indonesia? Apa artinya penghargaan tersebut, sementara dalam kapasitasnya sebagai kepala negara beliau juga belum mampu mengatasi pelanggaran hak asasi manusia di Papua yang cenderung meningkat dan dilakukan secara sistematis? Saya menyarankan kepada SBY untuk memfokuskan diri kepada membangun kehidupan yang penuh toleransi di Indonesia dan menghentikan semua bentuk pelanggaran hak asasi manusia di Papua.
  4. Jika SBY masih memaksakan kehendaknya untuk menerima penghargaan World Statesman Award dalam kondisi nyata kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat seperti ini, maka sepertinya beliau semakin menegaskan watak orang Indonesia yang lebih suka hal-hal yang simbolis dan seremonial dari pada hal-hal yang bersifat esensial dan prinsipil. Watak orang Indonesia yang seperti ini jika dilestarikan, maka Indonesia tidak akan berkembang menjadi bangsa besar, tetapi justru akan terus-menerus ditipu dan dibodohi.

Jayapura, 25 Mei 2013


Yakobus Dumupa, S.IP
(Sekretaris Pokja Adat MRP)
Share this post :

Komentar Anda :

Posting Komentar

 
Hak Cipta © 2016 ODIYAI WUU.COM | Website Pribadi DUMUPA ODIYAIPAI