Berita Terbaru :
Home » » Penyerangan di Tingginambut dan Sinak sebagai Wujud Ketidakpuasan Status Politik Wilayah Papua di dalam NKRI

Penyerangan di Tingginambut dan Sinak sebagai Wujud Ketidakpuasan Status Politik Wilayah Papua di dalam NKRI

Written By Odiyai Wuu on Selasa, 09 Desember 2014 | 23.55

Beberapa hari ini kita dikagetkan dengan aksi saling serang antara TPN/OPM yang diduga dibawah pimpinan Jend. (TPN) Goliath Tabuni dengan aparat TNI di Tingginambut dan Sinak, kabupaten Puncak Jaya, Papua. Aksi itu menyebabkan sejumlah anggota TNI meninggal dunia dan sejumlah anggota TNI lainnya dan warga sipil terkena luka tembak. Sementara dari pihak TPN/OPM belum diketahui korbannya. Pemerintah Indonesia melalui sejumlah pihak ramai-ramai mengutuk tindakan penyerangan tersebut, sementara pihak TPN/OPM menegaskan bahwa hal itu merupakan wujud perjuangan dan perlawanan terhadap Pemerintah Indonesia untuk memerdekakan dan mendirikan negara West Papua.
Berkaitan dengan hal ini, saya ingin menyampaikan beberapa hal sebagai berikut untuk menjadikan perhatian bagi semua pihak.
  1. Menurut saya, aksi penyerangan yang diduga terlebih dahulu dilakukan oleh pihak TPN/OPM ini sebaiknya jangan semata-mata dilihat sebagai sebuah bentuk separatisme bersenjata, dimana para penyerangnya diberi stigma sebagai musuh negara. Hal ini harus dipahami sebagai wujud dari adanya persoalan status politik Papua dalam NKRI yang belum pernah diselesaikan dengan baik, bahkan oleh kebanyakan orang Papua dinilai banyak kejanggalan dan manipulasi dalam pelaksanan PEPERA tahun 1969. Pengerangan di Tingginambut ini dan penyerangan-penyerangan sebelumnya yang dilakukan oleh pihak TPN/OPM sesungguhnya merupakan wujud dari ketidakpuasaan terhadap status politik wilayah Papua di dalam NKRI. Semua pihak diharapkan untuk tidak menyederhanakan dan menyempitkan masalah tersebut menjadi semata-mata masalah separatisme bersenjata, karena sikap yang seperti ini justru akan semakin menyuburkan gerakan perlawanan rakyat Papua terhadap Pemerintah Indonesia.
  2. Karena tindakan penyerangan ini pada prinsipnya merupakan wujud dari ketidakpuasan atas status politik Papua ke dalam NKRI dan berkaitan dengan aspirasi dan perjuangan kemerdekaan Papua, maka saya menyarankan alangkah baiknnya kedua belah pihak duduk bersama dan saling membuka diri membicarakan status politik Papua dalam NKRI secara jujur dan bermartabat. Jangan sekali-kali menyembunyikan segala fakta sejarah dan fakta hukum berkaitan dengan proses integrasi Papua ke dalam NKRI. Karena sesungguhnya kejujuran seperti itulah yang justru akan menyelesaikan masalah secara mendasar dan segala bentuk kekerasan dapat dihentikan.
  3. Jika masing-masing pihak tidak membuka diri untuk berdialog satu sama lain dengan tetap mempertahankan argumen dan tindakannyalah yang paling benar, maka kekerasan bersenjata di Papua, baik yang dilakukan oleh pihak TPN/OPM maupun pihak TNI dan POLRI tidak akan pernah berhenti. Dan oleh karena itu, dari waktu ke waktu nyawa akan terus melayang di kedua belah pihak. Dan jika itu yang terjadi, maka sesungguhnya kita semua gagal menghormati nilai kemanusiaan dan menghormati Allah yang menciptakan manusia, maka sudah tentu kita tidak punya peluang untuk hidup di surga kelak.

Jakarta, 22 Februari 2013

Yakobus Dumupa, S.IP
(Sekretaris Pokja Adat MRP)

Share this post :

Komentar Anda :

Posting Komentar

 
Hak Cipta © 2016 ODIYAI WUU.COM | Website Pribadi DUMUPA ODIYAIPAI