Berita Terbaru :
Home » » MAMBESAK: Ungkapan Perasaan Bangsa Papua

MAMBESAK: Ungkapan Perasaan Bangsa Papua

Written By Odiyai Wuu on Rabu, 24 Desember 2014 | 01.21

Yakobus Dumupa
(Anggota MRP, Ketua Pokja Adat MRP, dan penulis buku)


“Menyanyi adalah cara paling efektif mengungkapkan segala perasaan manusia”
(Dumupa Odiyaipai)

Berawal dari Alunan Mambesak di Apogomokida
Suatu sore pada tahun 1987, ketika matahari hendak terbenam, di ujung lapangan terbang Apogomakida (sekarang ibukota Distrik Sukikai, Kabupaten Dogiyai) yang terletak di belakang rumah kami (perumahan guru SD YPPK Apogomakida), saya menampar almarhum adik saya, Ferdinandus Dumupa. Penyebabnya adalah karena tiba-tiba dia merampas radio merek Tens yang sedang saya pegang. Saya yang kaget dengan tindakannya tidak dapat mengendalikan emosi, langsung menamparnya dan diapun langsung jatuh dan menangis dengan keras.

“Bebei, kasih, kasih, kasih,” kata adik saya sambil mengulurkan tangan kanannya meminta radio Tens, sementara tangan kirinya sambil mengusap air matanya.
“Tidak mau, ah,” balas saya sambil menyembunyikan radio Tens di belakang saya.
“Saya mau dengar tingting lala,” kata adik saya yang memang selalu menyebut musik dan lagu dengan sebutan tingting lala.

Setelah mendengar kata adik saya ini, barulah saya menyadari kalau dari dalam radio terdengar alunan musik dan lagu khas Papua.

Tanpa saya duga, entah dari mana datangnya, tiba-tiba bapak saya berdiri di depan saya dan merampas radio Tens yang saya pegang. Rupanya beliau datang setelah mendengar tangisan adik saya.

“Ei, jangan pukul ade. Kasih radio sama ade,” kata bapak saya sambil menyerahkan radio Tens kepada adik saya. Saya pun langsung menangis karena tidak terima dengan tindakan bapak saya.

“Sudah, kamu jangan menangis. Kamu kaka to, tidak boleh menangis,” bujuk bapak saya sambil mengusap air mata saya. Saya yang merasa terhibur dengan kata bapak saya langsung berhenti menangis.

“Bapa, tingting lala,” kata adik saya sambil menunjuk speaker radio Tens yang sedang digenggamnya.
“Iya, itu lagu Mambesak,” kata bapak saya.
“Mambesak itu apa?” tanya saya.
“Itu orang-orang main gitar, pukul tifa, dan menyanyi. Orang Irian di Jayapura sana,” kata bapak saya sambil tangan dan jari telunjuknya menunjuk ke arah terbitnya matahari, menunjuk ke arah Jayapura.

“Menyanyi apa?” kata saya karena masih merasa penasaran.
“Menyanyi lagu Irian. Kita orang Irian punya lagu. Menyanyi tentang Tuhan, pohon, gunung, sungai, burung. Menyanyi tentang kita punya orang yang mati. Menyanyi tentang tentang kita punya hidup nanti,” kata bapak menjelaskan sambil tangannya menunjukkan langit, rumput, pepohonan dan bukit di sekitar kami.

“Siapa yang mati?” tanya saya karena masih belum puas dengan penjelasan bapak.
“Banyak orang Irian mati karena mau merdeka. Orang yang menyanyi itu juga mati dibunuh karena mau merdeka. Itu lagu merdeka,” kata bapak menjawab pertanyaan saya.

“Merdeka itu apa, bapa?” tanya saya dengan serius karena tidak mengerti maksud kata itu.

“Sudah, kita pulang. Kamu masih kecil jangan bicara merdeka. Nanti besar baru tahu. Itu bunyi jangkrik, sudah malam. Ayo, kita pulang,” kata bapak saya hampir bersamaan dengan suara jangkrik di hampir seluruh pepohonan yang tumbuh di sekitar kami. Dan kami pun berjalan pulang ke rumah.

Sejak kejadian itu, barulah saya tahu “Mambesak”. Selanjutnya, setiap kali mendengar lagu Mambesak melalui siaran radio RRI Jayapura di radio Tens, saya dan adik saya selalu mengatakan bahwa itu “lagu merdeka”, walaupun kami tidak pernah mengetahui dan memahami maksud kata tersebut. Lagu Mambesak bagi saya dan adik saya menjadi idola dan penghibur di sore atau malam hari, selain dongeng yang sering diceritakan oleh kedua orang tua kami. Dan tentu saja, menjadi pengantar tidur dalam malam yang sepi di belantara Apogomakida.

“Virus Mambesak” dan “Ajaran Merdeka”
Selama masa kecil, baik di Apogomakida maupun di Mowenemani (ibukota kabupaten Dogiyai sekarang) setelah bapak saya pindah tugas kesana, Mambesak menjadi satu-satunya musik dan lagu idola saya. Saat itu, rasanya musik dan lagu yang lainnya, saya anggap tidak punya daya tarik bagi diri saya. Musik dan lagu Mambesak menjadi seperti virus yang menular dengan cepat di sekujur tubuh saya, bahkan sampai menjangkiti jiwa saya. Sangat terasa efeknya, menusuk ke kalbu yang terdalam. Bahkan ketika efek itu semakin menusuk kalbu, denga alunan musik yang syaduh dan nyanyian yang merdu, mata saya pun kadang berkaca-kaca, entah hendak meratapi siapa atau mengagumi siapa.

Ketika itu juga, kata “merdeka” kembali muncul dalam otak dan hati saya, walaupun sebelumnya seringkali saya lupakan. Kata bapak saya, bahwa “itu lagu merdeka” sungguh ampuh. Kata itu menjadi “ajaran” luhur yang tertanam kuat dalam lubuk hati saya. Mendengar musik dan lagu Mambesak berarti mendengar lagu merdeka. Dalam kekuasaan ajaran merdeka, saya pun tak henti-hentinya mencari esensi kata itu. Kadangkala saya merasa bingung dengan kata itu, sebab “merdeka” itu apakah penting, apakah sesuatu yang akan datang dengan sendiri, apakah sesuatu yang akan diberikan, atau apakah sesuatu yang akan direbut. Sampai pada titik kebingungan ini, bapak saya tidak pernah menjelaskan esensinya dan saya pun terus bingung dalam ajaran merdekanya.

Saya yakin bahwa saya bukanlah satu-satunya orang asli Papua yang menjadi “korban” virus Mambesak dan ajaran merdeka. Virus Mambesak dan ajaran merdeka sudah mewabah kemana-mana di seluruh pelosok Tanah Papua, sudah menjangkiti hampir semua orang asli Papua, bahkan mereka yang bukan non-asli Papua. Ini merupakan sebuah fakta yang sulit ditolak. Mambesak benar-benar menemukan kenyamanan di dalam lubuk hati setiap orang asli Papua, ibarat benih unggul yang menemukan tanah yang subur. Dari sana kerinduan akan Mambesak tumbuh dengan subur, menjulang tinggi, menemukan cita dan cinta yang semestinya. Cita dan cinta itu adalah kemerdekaan; dimana setiap oran asli Papua dapat hidup dengan kaki kokoh dan kepala tegak di negeri leluhurnya. Mambesak adalah “kawan perjalanan dalam siara kehidupan menuju puncak kemerdekaan”. Dalam semangat dan posisi seperti ini, virus Mambesak dan ajaran merdeka menjadi dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Mambesak tak penting tanpa merdeka, dan merdeka pun tak penting tanpa Mambesak.

Gema Bass Negeri Jamaika dan Deringan Ukulele Tanah Papua
Untuk memahami Mambesak, terutama dalam hal motivasi lahirnya Mambesak, tujuan Mambesak, dan alasan pembunuhan Arnold Ap (yang nama lengkapnya adalah Arnold Clemen Ap) sebagai tokoh utama Mambesak, saya merasa penting untuk membuat perbandingan dengan Rastafari dan Bob Marley (yang nama lengkapnya adalah Robert Nesta Marley) sebagai legenda musik Reggae kulit hitam yang sekaligus mempopulerkan gerakan (agama) Rastafari. Hal ini dengan maksud agar dapat memahami fenomena musik, gerakan sosial (politik/keagamaan), dan dampaknya (termasuk Mambesak) dari perspektif dan kecenderungan secara global, sebab fenomena Mambesak bukan semata-mata monopoli Papua atau Indonesia saja. Berikut ini tujuh kesamaan mencolok antara Rastafari dan Bob Marley dengan Mambesak dan Arnold Ap.

Lahir dari Rahim Koloniaslisme

Gerakan Rastafari lahir dari rahim kolonialisme dan rasisme. Gerakan ini dilahirkan oleh para migran dari Afrika di Jamaika. Mereka adalah para budak dan keturunan budak yang duluhnya pernah diboyong dari sejumlah wilayah di Afrika. Begitu pula dengan Mambesak. Mambesak lahir dari rahim kolonialisme Indonesia yang diwujudkan dalam bentuk pelanggaran hak asasi manusia yang sistematis yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia sejak tahun 1963.

Mencari Sang Khalik
Rastafari adalah sebuah gerakan agama baru yang mengakui Haile Selassie I, bekas kaisar Ethiopia, sebagai Raja diraja, Tuan dari segala Tuan dan Singa Yehuda sebagai Yah (nama Rastafari untuk Allah, yang merupakan bentuk singkat dari Yehovah yang ditemukan dalam Mazmur 68:4 dalam Alkitab versi Raja James), dan bagian dari Tritunggal Kudus. Nama Rastafari berasal dari Ras Tafari, nama Haile Selassie I sebelum ia dinobatkan menjadi kaisar. Gerakan ini muncul di Jamaika di antara kaum kulit hitam kelas pekerja dan petani pada awal tahun 1930-an, yang berasal dari suatu penafsiran terhadap nubuat Alkitab, aspirasi sosial dan politik kulit hitam, dan ajaran nabi mereka, seorang penerbit dan organisator Jamaika berkulit hitam, Marcus Garvey, yang visi politik dan budayanya ikut menolong menciptakan suatu pandangan dunia yang baru. Gerakan ini kadang-kadang disebut “Rastafarianisme” (walaupun sebutan ini dianggap tidak pantas dan menyinggung perasaan banyak kaum Rasta). Bob Marley adalah orang yang berperan penting dalam menyebarluaskan gerakan Rastafari melalui musik Reggaenya.

Mambesak tidak secara tegas mendeklarasikan dirinya sebagai musik beraliran keagamaan (musik religi), tetapi syair-syair lagunya mengandung sejumlah makna pemuliaan dan pencarian Sang Khalik. Tetapi di sisi lain, tidak dapat dipungkiri pula bahwa Arnold Ap yang adalah orang Byak dan antropolog, sebagai tokoh utama Mambesak, boleh jadi terinspirasi pula dengan cerita dan keyakinan terhadap “agama” Koreri. Sehingga boleh jadi Mambesak adalah ungkapan rasa mengenai Koreri itu.

Menggugat “Kemapanan yang Menindas”

Penjajahan sering dibentuk sedemikian rupa agar dapat dipercaya sebagai sesuatu yang mapan, yang diterima oleh siapapun sebagai hal yang wajar. Salah satu kelompok yang paling rentan menjadi korban akibat praktek ini adalah mereka yang berkulit gelap, karena kelompok ini (karena ras atau warna kulitnya) sering dianggap manusia yang mendekati alam binatang.

Praktek perbudakan yang pernah diterapkan oleh bangsa-bangsa Eropa terhadap orang-orang Afrika, dianggap dan dipercaya oleh orang Eropa sebagai sesuatu yang wajar. Karena percaya kepada kewajaran itu, maka praktek itu dilakukan dan dimapankan. Sehingga wajar saja, saat itu banyak orang Afrika yang diburu seperti binatang lalu diboyong dengan kapal ke sejumlah negara di benua Amerika dan diperjualbelikan disana untuk dipekerjakan sebagai budak. Di Indonesia dalam hubungannya dengan wilayah Papua, kemapanan yang menindas itu dapat dilihat dari adanya keyakinan pemerintah Indonesia yang menganggap wajar atas aneksasi Papua ke dalam wilayah NKRI dan sejumlah tindakan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukannya terhadap orang asli Papua. Semuanya itu dianggap wajar sebagai konsekuensi mempertahankan “integrasi bangsa”.
Penjajahan yang dimapankan (yang seakan-akan benar dan wajar) inilah yang digugat dan dilawan oleh gerakan Ratafaria dan Mambesak melalui musik dan lagunya.

Bersuara dengan Musik dan Lagu
Gugatan terhadap kolonialisme yang diwujudkan dalam bentuk perbudayakan dan pelanggaran hak asasi manusia dalam bentuk lainnya dan gugatan terhadap “kemapanan yang menindas” oleh Rastafari maupun Mambesak dilakukan dengan cara bermain musik dan bernyanyi. Para pengikut Rastafari bersuara melalui musik Reggae, sedangkan Mambesak bersuara melalui musik dan lagu khas Papua. Melalui musik dan syair lagu-lagunya, Rastafari maupun Mambesak mengungkapkan segala rasanya, dimana yang mencolok adalah pemuliaan terhadap Tuhan, pemujaan terhadap alam semesta (negerinya), kekaguman dan penghormatan terhadap indentitas dirinya dan bangsanya, gugatan terhadap kolonialisme (dan rasisme), dan cita-cita yang hendak diraih di masa depan.

Membentuk Nasionalisme
Rastafari dan musik Reggae menjadi gerakan dan alat pemersatu orang Afrika di Jamaika maupun di berbagai belahan dunia. Nasionalisme itu dibangun atas dasar kesamaan fisik atau ras dan kesamaan “sejarah penderitaan” sebagai korban kolonialisme dalam bentuk perbudakan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa terhadap dirinya. Mereka hendak menyatukan kembali diri untuk menemukan jati dirinya sebagai manusia dan hendak membangun masa depan yang bebas kolonialisme (dan rasisme) baik di Jamaika (karena kebetulan kemudian mereka menjadi warga negara Jamaika), maupun di berbagai belahan dunia (yang terbukti dari internasionalisasi gerakan Rastafari dan musik Reggae).

Mambesak juga melalui musik dan lagu-lagu khas Papuanya melakukan hal yang serupa. Adanya fakta sebagai satu kesatuan orang asli Papua dari ras Melanesia yang saat itu tertindas dalam pelanggaran hak asasi manusia dan adanya keinginan untuk menyatukan orang asli Papua sebagai satu bangsa untuk lepas dari penjajahan menjadi alasan yang tidak dapat dilepaskan dari kemunculan Mambesak. Dinama “nasionalisme” Papua yang dibangun saat itu disalahmengerti oleh pemerintah Indonesia seakan-akan dibangun semata-mata untuk kepentingan “Papua merdeka”, padahal penyatuan Papua sebagai satu bangsa dalam negara Indonesia sejatinya bukan hal yang tabu dari persfektif fakta ras, kebudayaan, dan kemanusiaan (karena memang negara ini dibangun di atas fakta keberagamaan ras, suku, bangsa, dan agama).

Tokoh Utama Dicurigai dan Dibunuh
Pada tanggal 11 Mei 1981, Bob Marley meninggal di Miami, Florida, Amerika Serikat akibat kanker yang dideritanya. Penyakit ini barasal dari melanoma atau kanker kulit di jempol kakinya. Sebuah sumber yang berasal dari penuturan Carl Colby, anak dari direktur Central Intelligence Agency – CIA (lembaga intelijen Amerika Serikat), William Colby, menyebutkan bahwa Bob Marley dibunuh oleh CIA. Dia dibunuh karena CIA hendak mencoba mengontrol politik Jamaika, dengan mendukung partai JLP yang pro-Amerika Serikat. Bob Marley yang sedang didekati oleh partai PNP yang berafiliasi dengan Kuba dianggap sebagai ancaman bagi partai JLN yang pro-Amerika Serikat, padahal Bob Marley sendiri sudah menyatakan tidak tertarik untuk bergabung ke partai manapun. CIA yang masih tetap curiga dengan Bob Marley dan dalam upaya untuk mengantisipasi dukungan Bob Marley kepada partai PNP, terpaksa harus membunuhnya. Cerita pembunuhannya, menurut penuturan Carl Colby, berawal dari hadiah sepatu yang diberikan oleh ayahnya kepada Bob Marley yang berisi jarum yang mengandung bibit kanker. Ketika Bob Marley hendak mengenakan sepatu tersebut, jempol kakinya tertusuk jarum. Saat diperiksa, barulah ketahuan bahwa ada semacam jarum yang menyebabkan Bob Marley menderita anker kulit yang menjalar di seluruh tubuhnya selama setahun yang berbuntut pada kematiannya.

Arnold Ap juga mengalami nasib yang serupa. Aktivitas musiknya melalui Mambesak dicurigai oleh Pemerintah Indonesia sebagai “gerakan politik” yang hendak membangkitkan nasionalisme Papua untuk melepaskan diri dari kekuasaan NKRI. Arnold Ap sendiri dicurigai sebagai “OPM kota” yang ikut berpartisipasi dalam perjuangan kemerdekaan Papua. Karena kecurigaan tersebut, akhirnya Arnold Ap dibunuh oleh Kopassandha (kini Kopassus) dan mayatnya ditemukan pada tanggal 26 April 1984 di Pantai Base G, Jayapura, setelah sebelumnya ditahan sejak bulan November 1983 tanpa proses hukum yang semestinya. Pembunuhannya diatur dengan skenario “melarikan diri” setelah sebelumnya secara sengaja dibebaskan oleh Kopassandha dari dalam tahanan. Arnold Ap yang hendak menyeberang ke Papua New Guinea menyusul istri dan anaknya yang telah mengungsi sebelumnya justru ditembak mati. Selain Arnold Ap, rekannya, Eduard Mofu, juga dibunuh dan ditemukan terapung di permukaan air laut Pantai Base G dengan luka tembak di dada dan perutnya.

Mempunyai Pengaruh dan Pengikut
Gerakan Rastafari telah menyebar di berbagai tempat di dunia, terutama melalui migrasi dan minatnya dilahirkan oleh musik Nyahbinghi dan Reggae, khususnya musik Bob Marley. Pada tahun 2000, ada lebih dari satu juta Rastafari di seluruh dunia. Sekitar 5-10 persen dari penduduk Jamaika mengidentifikasikan dirinya sebagai Rastafari dengan ciri khas atau tradisi tertentu yang melekat padanya. Salah satu ciri khasnya adalah kebanyakan kaum Rastafari adalah vegetarian atau hanya memakan jenis-jenis daging tertentu. Di Amerika Serikat ada banyak sekali restoran vegetarian Hindia Barat, yang menyediakan makanan Jamaika. Pada tahun 1996, gerakan Rastafari di seluruh dunia mendapatkan status konsultatif dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Mambesak juga mempunyai ribuan penggemar yang fanatik di Papua, terutama orang asli Papua. Hal ini dapat dilihat dari adanya upaya dari sejumlah pihak untuk membangkitkan kembali Mambesak, adanya kegemaran sejumlah orang asli Papua untuk mendengarkan lagu-lagu Mambesak, adanya sejumlah aksesoris (terutama pakaian) yang disablon dengan foto Arnlod Ap, dan adanya sejumlah tulisan yeng bertemakan Mambesak dan Arnold Ap yang ditulis oleh sejumlah orang.

Jika melihat perbandingan antara Rastafari dan Bob Marley dengan Mambesak dan Arnold Ap, maka terdapat tujuh kesamaan yang mencolok. Hal semacam ini bukanlah sebuah kebetulan, sebab hal semacam ini sesungguhnya merupakan fenomena global. Banyak gerakan sosial (politik/keagamaan) dan banyak musik dan lagu lahir sebagai wujud perlawanan terhadap penjajahan (atau sebut saja “kemapanan yang menindas”) dan untuk menemukan dan menegakkan jati diri sebagai manusia yang merdeka. Pilihan perjuangan dengan cara seperti ini juga pernah dilakukan oleh group musik, musisi dan penyanyi lain seperti John Lennon, Lucky Dube, Iwan Fals, Black Brothers, dan masih banyak lainnya.

Dengan demikian, sesungguhnya latarbelakang lahirnya Mambesak, dinamika dalam perjalanan Mambesak, dampak dari adanya Mambesak, dan tujuan akhir dari Mambesak sesungguhnya sama atau serupa dengan gerakan sosial (politik/keagamaan), musik, dan lagu yang pernah dan sedang bermunculan di berbagai belahan dunia lainnya. Yang pada umumnya inti dari gerakan sosial (politik/keagamaan) seperti ini adalah karena hendak menemukan dan menegakkan jati dirinya sebagai manusia yang sesungguhnya.


Meluruskan Perasaan dan Pikiran Penguasa yang Bengkok
Mambesak menemukan ajalnya dengan terbunuhnya tokoh utamanya, Arnold Ap. Sebagaimana sudah diketahui umum bahwa Arnold Ap dibunuh oleh Kopassandha karena beliau dicurigai sebagai “OPM kota” dan aktivitas Mambesaknya dicurigai sebagai upaya membangkitkan nasionalisme Papua dan mengkapanyekan kemerdekaan Papua. Barangkali menurut pemerintah Indonesia, tindakan pembunuhan yang dilakukannya adalah hal yang wajar, karena pemerintah selalu meyakini bahwa “separatis harus ditumpas”. Dan barangkali pembunuhnya pun dianggap sebagai pahlawan dan mendapat promosi pangkat dan jabatan. 

Di Indonesia, Arnold Ap bukan satu-satunya korban kekejaman penguasa, karena penguasa hampir selalu anti-kritik. Banyak orang-orang kritis, mulai dari seninam, aktivis, akademisi, agamawan, hingga masyarakat biasa yang telah dibunuh oleh penguasa. Sebut saja contohnya adalah Munir, Widji Tukul, Marsinah, Theys Hiyo Eluay, dan lainnya. Pemerintah juga gemar membubarkan gerakan sosial dan aksi demonstrasi yang dinilai mencoreng wibawanya, padahal gerakan sosial dan aksi demonstrasi justru lahir karena kebobrokan penguasa sendiri dalam menjalankan pemerintahannya. Bukan itu saja, pemerintah juga gemar melakukan pelarangan terhadap penerbitan dan peredaran buku atau media massa tertentu karena dinilai menyudutkan penguasa atau membongkar kebobrokannya.

Dalam hal seperti ini, apapun alasan pembenarannya, penguasa selalu “salah rasa” dan “salah pikir”. Karena kesalahan itulah, maka mereka melakukan kesalahan lanjutannya dengan melarang suara-suara kritis dan membunuh orang-orang kritis. Penguasa menurut penilaian dan patokannya sendiri, selalu berada di posisi yang benar. Penguasa tidak pernah menyadari bahwa negara yang namanya Indonesia ini dibangun di atas fakta dan landasan pluralisme, seperti keberagaman suku, bangsa, ras, agama, dan golongan. Tentu saja termasuk pluralisme dalam hal rasa dan pikir, dimana masing-masing orang baik dalam konteks personal maupun kolektif selalu berbeda perasaan dan pikiran. Penguasa pun tidak pernah menyadari bahwa negara ini adalah negara hukum dan demokrasi yang menjujung tinggi hak asasi manusia. Dimana setiap perbedaan semestinya dinilai sebagai hal yang wajar sebagai koksenkuensi logis dari pluralisme dan keharusan dari hak yang melekat pada setiap orang sebagai manusia. Penguasa semestinya menguji dan membuktikan setiap “kecurigaan” kepada warga negaranya secara obyektif melalui proses hukum yang adil dan transparan, bukan justru melarang suara-suara kritis dan membunuh orang-orang kritis secara membabi-buta.

Pembunuhan Arnold Ap yang menjadi awal pembubaran dan kehancuran Mambesak serta melarang suara-suara kritis dan membunuh orang-orang kritis lainnya selama ini harus menjadi tonggak awal “pelurusan perasaan dan pikiran penguasa yang bengkok”. Penguasa harus bertobat dan kembali ke jalan yang benar, sebab negara ini tidak dapat dibangun di atas landasan kepalsuan dan kebohongan. Setiap kekuasaan ada masanya, setiap penguasa ada batas waktu hidupnya, sebab tidak ada yang abadi di dunia ini. Mumpung masih ada waktu, mumpung lonceng kematian belum berdering, dan mumpung bintang belum jatuh pada hari khiamat, penguasa yang gemar curiga, yang perasaan dan pikirannya bengkok selama ini, harus kembali ke jalan yang benar; yaitu jalan penghargaan, penghormatan, dan pengakuan terhadap fakta pluralisme dan hak asasi manusia.

       
Dari Ratapan Penderitaan menuju Kidung Kebebasan
Dari sisi yang lain, Mambesak adalah “ratapan penderitaan” orang asli Papua. Melalui alunan musik dan lagu-lagunya, Mambesak telah meratapi penderitaan orang asli Papua. Ketika Mambesak menemukan puncak kejayaannya, personel Mambesak dan orang asli Papua kembali dirundung duka dan penderitaan berulang kembali dengan terbunuhnya Arnold Ap sebagai tokoh utama Mambesak. Sejak kematiannya sampai sekarang musik dan lagu-lagu Mambesak menjadi ratapan penderitaan orang asli Papua. Dan ratapan itu terus menggema menghiasi penderitaan orang asli Papua di negeri leluhurnya sendiri.

Meratapi penderitaan adalah hal yang manusiawi, tetapi tunduk kepada penderitaan selamanya adalah hal yang “kurang ajar”. Orang asli Papua harus bangkit dari penderitaan panjang, orang asli Papua harus bangun dari tidur panjang, orang asli Papua harus sadar dari sikap pasrahnya kepada penderitaan, dan mengubah ratapan penderitaan menjadi kidung kebebasan. Mambesak harus dibangkitkan kembali dalam bentuk “Neo-mambesak” (Mambesak baru). Nada-nada Mambesak yang terputus harus disambung kembali. Suara-suara Mambesak yang usang harus diperbarui kembali. Dalam kebaruannya, melodi cinta harus ditebar dan kidung kebebasan harus dikumandangkan. Neo-mambesak harus dibangun sebagai salah satu “simbol kebangsaan” Papua (entah Papua tetap dalam NKRI atau merdeka dari NKRI).

Karena Mambesak lahir dari Universitas Cenderawasih Jayapura dan mati dalam genggaman Universitas Cenderawasih pula, maka Universitas Cenderawasih harus menjadi motivator dan inisiator lahirnya Neo-mambesak. Fakultas Antropologi Universitas Cenderawasih, para antropolog, para alumni Fakultas Antropologi Universitas Cenderawasih, dan mahasiswa Antropologi Universitas Cenderawasih sudah saatnya memikirkan kebangkitan Neo-mambesak dan langkah-langkah menuju kebangkitannya harus mulai dirintis. Dalam kebangkitan Neo-mambesak ini, pemerintah daerah juga harus memberikan dukungan yang signifikan, setidaknya melalui upaya fasilitasi yang memadai. Pemerintah tidak boleh apatis dengan hal ini, apalagi mencurigai secara berlebihan sebagaimana pernah dilakukan sebelumnya. Dengan semangat “pertobatan” dan “kembali ke jalan yang benar”, pemerintah harus mendukung kebangkitan Neo-mambesak.


Ungkapan Perasaan Bangsa Papua
Mengapa Neo-mambesak harus dibangkitkan? Sebab menyanyi adalah cara paling efektif mengungkapkan segala perasaan manusia. Orang asli Papua sebagai manusia harus mengungkapkan segala perasaanya secara bermartabat. Para budak Afrika di Jamaika pernah mengungkapkan segala perasannya melalui musik Reggaenya. Para personel Mambesak telah mengungkapkan perasaan orang asli Papua melalui Mambesaknya. Kini melalui Neo-mambesak orang asli Papua harus mengungkapkan perasaannya secara kolektif (kebangsaan), untuk mencurahkan isi hati kepada sesama orang asli Papua, mengetuk hati para penguasa, menyampaikan pesan kepada seluruh umat manusia di berbagai belahan dunia, membagi rasa kepada alam semesta, dan mengirim pesan kepada Sang Khalik di surga.

Sejumlah perasaan yang harus diungkapkan oleh orang asli Papua dalam kolektivitas (kebangsaannya) melalui Neo-mambesak antara lain adalah rasa syukur kepada Sang Khalik, kekaguman terhadap tanah pusaka yang subur dan kaya, kekaguman terhadap identitas diri sebagai orang asli Papua, kekaguman terhadap ajaran leluhur dan nilai adat serta budaya yang luhur, kesedihan terhadap pengabaian sabda Sang Khalik dan ajaran luhur lelehur, kesedihan terhadap (sejarah) penderitaan masa lalu dan masa sekarang, kesedihan terhadap orang-orang asli Papua yang dibunuh atau dibantai secara keji, kesedihan terhadap kekayaan alam yang dirampok dan dirusak atau dicemari, inspirasi dan motivasi dalam menjalani hidup dan memperjuangkan kebenaran, keyakinan terhadap kebahagiaan hidup di masa depan, dan ungkapan perasaan lainnya.

Semua perasaan ini harus diungkapkan secara jujur, tanpa harus dimanipulasi atau disembunyikan. Apapun alasannya, perasaan tetaplah perasaan. Kekuasaan yang menindas jangan menjadi alasan untuk menyembunyikan perasaan (karena ketakutan). Rayuan yang manis jangan menjadi alasan untuk memutarbalikan perasaan (karena tergoda). Perasaan yang diungkapkan secara tulus dan jujur tanpa kemunafikan yang pada akhirnya akan mendatangkan berkat bagi setiap orang pada waktunya, baik di dunia maupun di akhirat, sebab segala yang baik selalu berawal dari hati tulus.


Dan Pada Akhirnya
Kalau besok kami bernyanyi dengan tulus
Mengungkap segala rasa yang membelit jiwa
Menyatukan dengan doa dan tangisan
Lalu mengirim ke Sang Khalik di Nirwana

Kami percaya dengan tulus
Ketika Sang Khalik mengirim kasih ke bumi
Kala itu segala rasa menyatu dengan sempurna
Kami akan menari dalam kebebasan


Port Numbay, 1 Agustus 2014



Catatan:
Tulisan ini dibuat untuk memenuhi permintaan pihak Museum Budaya Universitas Cenderasih dalam rangka penulisan buku untuk mengenang Mambesak dan Arnold C. Ap. Lebih lanjut tulisan ini akan diberbitkan dalam bentuk buku dengan tulisan dari pihak lainnya.
Share this post :

Komentar Anda :

Posting Komentar

 
Hak Cipta © 2016 ODIYAI WUU.COM | Website Pribadi DUMUPA ODIYAIPAI