Berita Terbaru :
Home » » Duka Natal di Tanah Papua

Duka Natal di Tanah Papua

Written By Odiyai Wuu on Jumat, 19 Desember 2014 | 08.08

Duka Natal di Tanah Papua/Foto.Ist
Setiap hari raya bagi setiap agama mempunyai maknanya tersendiri bagi pemeluknya, dalam membangun hubungannya dengan Sang Pencipta maupun dalam menjalani hidup ini. Bagi orang yang beragama Kristen, Natal dimaknai dan diidentikkan dengan “damai”. Kelahiran Tuhan Yesus Kristus di Betlehem, Israel, 2014 tahun yang lalu dipercayai sebagai wujud anugerah Allah dalam mendamaikan hubungan Allah dan manusia serta manusia dengan sesamanya yang sebelumnya telah retak akibat dosa manusia. Putra Allah dari Nazareth itu lahir untuk menebus dosa umat manusia, agar manusia menjadikan diri-Nya sebagai teladan hidup dan kemudian menjadikan diri-Nya sebagai “jalan menuju surga”, agar di akhirat manusia dapat hidup bersekutu dalam kemuliaan Allah.

Orang asli Papua yang mayoritasnya beragama Kristen (Katolik dan Protestan), sebagaimana umat Kristiani di seluruh belahan dunia selalu memperingati hari raya Natal sebagai momentum kedamaian. Pesan-pesan kedamaian selalu dikumandangkan pada momentum ini. Tetapi nampaknya impian kedamaian di Papua tidak pernah terwujud sejak Papua (melalui aneksasi TRIKORA tahun 1961 dan rekayasa PEPERA tahun 1969) diitegrasikan ke dalam wilayah kekuasaan NKRI. Sejak itu, orang asli Papua selalu meneteskan keringat, air mata, dan darah akibat penindasan yang dilakukan oleh penguasa (dalam persekongkolan dengan pengusaha) secara sistematis dan agresif. Banyak orang asli Papua menjadi korban kekejaman penguasa (dalam persekongkolan dengan pengusaha) dalam berbagai bentuk seperti labelisasi negatif, marginalisasi, terror, intimidasi, pengejaran, penangkapan, pemenjaraan, pemerkosaan, dan pembunuhan secara sadis, yang disertai pula dengan pengerukan kekayaan alam dan pendudukan wilayah Papua oleh migrasi ilegal.

Yang lebih menyedikan adalah hampir setiap bulan Desember setiap tahun selalu ada saja orang asli Papua yang dibunuh. Penguasa selalu saja punya alasan untuk membunuh dan melegalkan pembunuhannya dengan berpedoman pada hukum (penjajahan) yang mereka ciptakan sendiri. Contoh kasus paling terakhir adalah “Enarotali Berdarah” (Paniai Bersarah) yang terjadi pada tanggal 8 Desember 2014. Warga sipil yang berada di pondok Natal dan yang berdemonstrasi sama-sama diserbu dan dibantai seeperti “binatang buruan” oleh aparat TNI dan POLRI, yang menyebabkan 6 orang warga sipil meninggal dunia dan puluha lainnya luka-luka. Bukan itu saja, sebelumnya dalam bulan yang sama juga sejumlah tindakan bejat dilakukan oleh aparat TNI dan POLRI terhadap orang asli Papua ketika hendak dan sedang memperingari “Hari Kemerdekaan Papua” pada tanggal 1 Desember.

Jika melihat rutinitas dan agresitivitas pelanggaran hak asasi manusia yang selalu dilakukan oleh penguasa (dalam persekongkolan dengan pengusaha), yang dalam teknis operasionalnya dilaksanakan oleh aparat TNI dan POLRI terhadap orang asli Papua setiap bulan Desember di Papua ini, maka dapat dipastikan bahwa impian “damai Natal” tidak pernah terwujud di Papua. Nampaknya Natal hanya perayaan rutinitas dan seremonial yang tak bermakna, sebab makna sesungguhnya tidak pernah terwujud. Bahkan boleh jadi Natal menjadi “perayaan duka” (yang seharusnya dikumandangkan dengan “ratapan kematian”) orang asli Papua yang selalu diperingati setiap tahun untuk mengenang kematian dan pemusnahan orang asli Papua akibat kekejaman penguasa (dalam persekongkolan dengan pengusaha).
Dumupa Odiyaipai
Share this post :

Komentar Anda :

Posting Komentar

 
Hak Cipta © 2016 ODIYAI WUU.COM | Website Pribadi DUMUPA ODIYAIPAI