Berita Terbaru :
Home » » Dumupa Odiyaipai

Dumupa Odiyaipai

Written By Odiyai Wuu on Rabu, 26 November 2014 | 08.04

Nama saya sebagaimana tertera di surat baptis, akte kenal lahir, dan ijazah adalah Yakobus Dumupa. Nama asli saya sebagai anggota suku Mee adalah Dumupa Odiyaipai. Saya lahir di Apogomakida atau yang sering disebut Apouwo (sebuah kampung kecil di Distrik Sukikai, Kabupaten Dogiyai, Papua sekarang), pada tanggal 12 Mei 1982, ketika ayah saya bertugas sebagai guru di SD YPPK Apogomakida. Saya lahir sebagai anak kedua dari 10 orang bersaudara dari ayah dan ibu yang sama-sama berasal dari suku Mee.

Sebagian masa kecil saya sebelum bersekolah, saya habiskan di Apogomakida. Di sini, dari kedua orang tua dan adik-adik, sahabat sebaya, dan warga kampung, saya belajar tentang persahabatan dan kasih sayang. Dari alam belantara yang indah, saya belajar tentang kemesraan dan keharmonisan hidup dengan alam.

Setelah ayah saya pindah tugas ke Mowanemani (ibukota Kabupaten Dogiyai, Papua sekarang) di SD YPPK St. Yosep Mowanemani, pada tahun 1988, saya masuk sekolah di SD YPPK St. Yosep Mowanemani pada tahun 1991 dan menyelesaikan pendidikan dasar pada tahun 1996. Kemudian melanjutkan pendidikan lanjutan tingkat pertama di SLTA YPPK St. Fransiskus Asisi, Mowanemani, pada tahun 1996 dan tinggal di Asrama Putra St. Fransiskus Asisi, Mowanemani, hingga menamatkan pendidikan menengah pertama pada tahun 1999. Selama bersekolah di sini saya dipilih menjadi Ketua OSIS SLTP YPPK St. Fransiskus Asisi, Mowanemani, masa jabatan tahun 1997-1998. Selama hidup dan bersekolah di Mowanemani, selain ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keagamaan, saya banyak belajar tentang nilai-nilai kedisiplinan, kemandirian, persaudaraan, dan pertanggungjawaban dari kedua orang tua, para guru, para pembina asrama, para sahabat sebaya dan warga masyarakat.

Pada tahun 1999, saya melanjutkan pendidikan menengah di SMU YPPK Teruna Bakti Waena, Jayapura, dan tinggal selama masa pendidikan di Asrama Putra St. Fransiskus Asisi Waena, Jayapura, hingga tamat pada tahun 2002. Selama sekolah di sini, saya dipilih menjadi Ketua OSIS SMU YPPK Teruna Bakti Waena, Jayapura, masa jabatan tahun 2000-2001. Selama hidup dan bersekolah di Jayapura, selain mengembangkan kemampuan intelektual, bersama teman-teman sekolah dan asrama, saya digembleng untuk mengembangkan kemampuan emosional dan kemampuan spiritual dengan kedisiplinan yang tinggi.

Karena berminat pada ilmu politik dan pemerintahan, maka tahun 2002 saya melanjutkan pendidikan ilmu politik dan ilmu pemerintahan pada Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD” Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Tetapi karena merasa belum puas dengan ilmu pengetahuan yang diterima di kampus dan kegelisahan hati menyaksikan penderitaan rakyat Papua, maka sejak semester III (tahun 2003) saya mulai “mencari ilmu pengetahuan di luar kampus” dengan melibatkan diri dalam berbagai kegiatan di luar kampus seperti diskusi, seminar, pengorganisasian massa, dan demonstrasi. Tahun 2004, saya dipercayakan untuk menjabat sebagai Ketua III Aliansi Mahasiswa Papua Internasional (AMP Internasional) membidangi Demokrasi dan Hak Asasi Manusia. Tahun 2006, sebagai hasil pergumulan terhadap penderitaan rakyat Papua, saya menulis dan menerbitkan buku pertama saya dengan judul “Berburu Keadilan di Papua; Mengungkap Dosa-dosa Indonesia di Papua Barat”. Buku inilah yang kemudian memotivasi saya untuk menulis menerbitkan dua buku lainnya dalam status saya sebagai mahasiswa, yakni masing-masing berjudul ”Buying Time Diplomacy: Liku-liku Perjuangan Kemerdekaan Papua Barat (Kasus Suaka Politik Papua Barat di Australia)” yang terbit tahun 2007 dan ”Ratapan Tanah Sorga: Tragedi Penderitaan Seorang Pemuda Papua dalam Bayang-bayang Penjajahan” yang terbit tahun 2008. Akhirnya, saya menyelesaikan pendidikan strata satu ilmu politik dan ilmu pemerintahan pada tahun 2007.

Selepas kuliah, selama tahun 2008-2011, saya menjadi pengembara dan penulis. Saya mengembara mengunjungi beberapa tempat/kota, seperti Hong Kong (Hong Kong SAR), Vanimo (Papua Nugini), Jakarta, Jayapura, Nabire, Timika, dan Mowanemani, yang masing-masing tempat/kota saya singgahi hanya beberapa waktu saja dan berpindah ke tempat/kota lain. Di setiap kota/tempat yang saya kunjungi saya menulis dua buku yang kemudian saya terbitkan, masing-masing berjudul ”Kontroversi Dogiyai: Pro dan Kontra Pemekaran Kabupaten Dogiyai dalam Fenomena Politik dan Ekonomi Global, Indonesia, dan Papua Barat” yang terbit tahun 2008 dan ”Goodide Awe Pito: Mengenang Lima Puluh Tahun Gereja Katolik dan Pendidikan di Goodide” (bersama David Goo) yang terbit tahun 2008.

Pada bulan Desember 2010, saya memutuskan untuk pulang kampung karena sudah lelah mengembara. Tak genap satu bulan, awal tahun 2011 dilakukan pemilihan anggota Majelis Rakyat Papua. Atas kehendak dari masyarakat adat di Kabupaten Dogiyai, dengan alasan saya dianggap cocok dan mampu, maka saya dicalonkan menjadi anggota Majelis Rakyat Papua. Dalam pemilihan yang dilakukan di Nabire, saya menang dengan suara terbanyak dari 24 orang calon anggota Majelis Rakyat Papua. Akhirnya, saya dilantik menjadi anggota Majelis Rakyat Papua pada tanggal 12 April 2011 sebagai anggota Majelis Rakyat Papua termuda mewakili unsur adat untuk masa jabatan tahun 2011-2016. Di lembaga representatif orang asli Papua ini, saya dipercayakan menduduki jabatan Sekretaris Kelompok Kerja Adat masa jabatan tahun 2011-2014, dan selanjutnya dipercayakan menjadi Ketua Kelompok Kerja Adat masa jabatan tahun 2014-2016.

Di Majelis Rakyat Papua saya menjadi penggagas ”Evaluasi Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat Perspektif Orang Asli Papua” (yang dilaksanakan pada tanggal 25-27 Juli 2014 di Jayapura). Saya juga menjadi penggagas gerakan ”Revolusi Tanah dan Manusia Papua” untuk menyelamatkan tanah Papua dari pencaplokan dan penjualan serta menyelamatkan orang asli Papua dari penindasan dan kepunahan. Dan saya juga menjadi penggagas ”Gerakan Manusia Merdeka” (GMM), sebuah wadah perkumpulan para intelektual muda Papua yang tidak bermotif politis dan ekonomis untuk mendiskusikan dan/atau menyalurkan ide-ide kritis dan kreatif dalam upaya mewujudkan kehidupan manusia yang merdeka sebagai anugerah Allah, dengan mengoptimalkan kemampuan intelektual, kemampuan emosional, dan kemampuan spiritual secara berimbang.

Walaupun menjadi anggota Majelis Rakyat Papua, saya tidak berhenti menulis. Saya telah menerbitkan dua buku, masing-masing berjudul ”Mengenal dan Belajar dari Pemimpin Besar” yang diterbitkan tahun 2012 dan ”Demokrasi Tidak Harus Langsung: Masalah, Dampak dan Solusi Pemilihan Kepala Daerah di Papua” yang diterbitkan tahun 2013. Beberapa buku dalam proses penulisan dan beberapa diantaranya akan diterbitkan segera.
Share this post :

Komentar Anda :

Posting Komentar

 
Hak Cipta © 2016 ODIYAI WUU.COM | Website Pribadi DUMUPA ODIYAIPAI